Oleh: YopiE | Juni 24, 2008

KEJAKSAAN AGUNG BIKIN SINETRON ARTHALITA

Busuknya republik ini, dan bajingannya para penegak hukum di republik ini.
Bayangkan setelah semua percakapan antara Arthalyta, Kemas, Untung,
dan Urip terungkap, Jaksa Agung Hendarman Supandji tetap NGOTOT bahwa keputusan
kejaksaan agung tentang kasus BLBI tidak bermasalah secara hukum. LUAR BIASA
NGAWURNYA Jaksa Agung dan DPR juga yang tidak peduli. Baca baik-baik percakapan para
bajingan itu di bawah ini, dan simpulkan sendiri adakah kaitan bebasnya
maling2 BLBI (Syamsul Nursalim dan Sudono Salim, serta maling BLBI
lainnya) dengan para bajingan di kejaksaan agung. Edan kita semua ratusan juta
manusia terdidik tetap dianggap sangat bodoh oleh para bajingan itu…

*
1.Artalyta Juga “Berkoordinasi” dengan Kemas dan Urip*
Kamis, 12 Juni 2008 | 00:22 WIB

Jakarta, Kompas – Majelis hakim Pengadilan Khusus Tindak Pidana
Korupsi atau Tipikor yang mengadili terdakwa Artalyta Suryani dalam kasus dugaan
penyuapan terkait Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI, Rabu
(11/6), meminta jaksa penuntut umum memperdengarkan rekaman pembicaraan antara
terdakwa dan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (saat itu) Kemas Yahya
Rahman.

Percakapan Kemas dengan Artalyta terjadi pada 1 Maret 2008 pukul 13.00,
sehari sebelum jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta ditangkap Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Percakapan itu juga sehari setelah Kejaksaan
Agung (Kejagung) mengumumkan penghentian penyelidikan perkara BLBI yang
ditangani Kejagung pada 29 Februari 2008.

*
Berikut percakapan Kemas Yahya Rahman dan Artalyta.*

Artalyta (A): Halo

Kemas (K): Halo

A: Yah, siap.

K, sambil tertawa: Sudah dengar pernyataan saya kan?

A: Good, very good.

K: Jadi, tugas saya sudah selesai kan?

A: Siap, tinggal….

K: Sudah jelas kan, itu gamblang. Sekarang tidak ada permasalahan lagi.

A: Bagus itu.

K: Tetapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka?

A: Aaah, Rakyat Merdeka gak usah dibaca.

K: Saya disebut mau dicopot. Ha-ha-ha…. Jadi gitu ya.

A: Sama ini, Bang, saya mau informasikan. ..

K: Yang mana?

A: Masalah si Joker.

K: Oh, nanti, nanti, nanti.

A: Saya kan perlu jelasin, Bang.

K: (Dengan dengan nada tergesa-gesa) : Nanti, nanti itu. Tenang saja,
nanti ada cara lain. Nanti saja.

A: Selasa saya ke situ ya.

K: Gak usah, gampang itu. Nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah
mendapatkan informasi dari sana.

A: Tapi begini, Bang.

K, (memotong): Jadi begini, ini sudah saya umumnya. Ada alasan lain, nanti
dalam perencanaan.

Telepon pun terputus.

Urip minta bonus

Di dalam persidangan itu, yang juga menghadirkan Urip sebagai saksi,
majelis hakim Pengadilan Tipikor pun memutar rekaman pembicaraan antara
Artalyta dan Urip. Namun, dalam persidangan itu Urip tidak mau mengaku bahwa suara
dalam dalam percakapan telepon yang direkam KPK itu adalah suaranya. Sebaliknya,
Artalyta justru mengaku itu suara dirinya dan Urip.

Ketua Majelis Hakim Mansyurdin Chaniago juga berkali-kali meminta Urip
agar tidak berbohong. Akan tetapi, Urip tetap membantah dengan mengatakan tidak
tahu atau tidak ingat.

Dalam percakapan itu terungkap juga perkataan Urip yang menyebut Artalyta
dengan sebutan “bos”. Dalam percakapan telepon juga terungkap, Artalyta
memberikan petunjuk ke Hotel Shangri-La, Jakarta, untuk bertemu Itjih
Nursalim, istri Sjamsul Nursalim, pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia
(BDNI). Sjamsul sempat menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi BLBI
karena BDNI menerima BLBI, yang akhirnya dihentikan penyidikannya oleh
Kejagung.

Urip dalam percakapan itu menanyakan soal uang yang akan diberikan.

Urip (U): Jadinya berapa?

Artalyta (A): Kan enam.

U: Belum bonus kan? Itu lho, yang kemarin saya garuk-garuk kepala.

A: Kan tidak bisa, sudah dieksekusi segitu.

U: Tambahin dikitlah.

2. Percakapan telepon antara Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha
Negara (Jamdatun) Kejagung Untung Udji Santoso dan Artalyta Suryani beberapa
menit setelah jaksa Urip ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 2 Maret
2008.

Percakapan telepon antara Untung dan Artalyta diperdengarkan dalam
sidang di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (11/6).

*
Percakapan telepon antara Untung dan Artalyta ini tercatat pada tanggal 2
Maret 2008 pukul 17.48.*

U (Untung): Halo?

A (Artalyta): Halo, Mas, ini Ayin, Mas (suara Artalyta terdengar panik).

U: Oh, ada apa, Dik?

A: Urip, Mas. Saya pakai nomor lain sekarang. Urip, Mas, tertangkap KPK.

U: Hah?

A: Dia mau eksekusi, biasa, tanda terima kasih.

U: Perkara apa?

A: Urip kita, Mas. Tolong, Mas, telepon Antasari untuk mengamankan. Saya
sudah suruh Joko untuk telepon Ferry.

Untung Udji kemudian menyarankan agar Artalyta mengatakan tidak ada
kaitannya dengan uang yang di tangan Urip. “Bilang aja tidak ada
kaitannya.
Gratifikasi, kalau belum satu bulan tidak lapor, tidak apa-apa. Wis,
ngomong wae, gak ada kaitan apa-apa,” kata Untung.

Artalyta kemudian meminta Untung untuk menelepon Antasari. Untung kemudian
berkata, “Ya wis, aku telepon dulu.”

Beberapa menit kemudian Untung dan Artalyta kembali berkomunikasi.

U: Halo.

A: Halo, Mas. Tadi Salim sudah telepon. (Terdengar Artalyta bercakap-cakap
dengan seseorang di rumahnya, “Siapa ada di depan? Pantau siapa yang
menerima.”)

A: Halo, Mas.

U: Bilang aja tidak ada keterkaitan dengan BLBI.

A: Si U (Urip) ngomong gitu gak?

U: Bilang aja dari Agus. Sebut saja anaknya sakit. Emangnya you kasih
berapa?

A: Enam, Mas.

U: Berapa?

A: 660.000 dollar, Mas.

U: Oh, itu 4 miliar?

A: 6 miliar, Mas.

U: Laa Ilahailallah. (Untung terdengar kaget)

A: Jadi, bagaimana ini, Mas, untuk menyelamatkan semua, orang-orang kita?

U: Yah enggak iso ngelak kalau 6 miliar. Gila!

A: Jadi, bagaimana?

U: Tak pikir enam atus yuto (Rp 600 juta) gitu.

A: Enggak, itu banyak. Jadi, gimana?

U: Itu untuk siapa?

A: Ah, ya sudahlah. Sekarang kita cari jalan keluarnya gimana?

U: Aduh biyung, gimana ini. Sek, sek, kalau kayak gitu, susah itu.

A: Aku bilang, kan, ajudanku. Terus?

U: Ajudan kok duite sakmono gede, soko ngendi? Ngarang wae. (Ajudan kok
uangnya segitu besar, dari mana? Ngarang saja) Yo wis, gimana caranya
hubungi Antasari.

(Untung mengatakan telepon Antasari mati)

A: Mati? Dicari dong, Mas. Suruh nyari dong, Ferry disuruh nyari.

U: Ferry juga gak ngangkat. (Artalyta terdengar bingung. Untung menyuruh
Artalyta mencari Antasari, tetapi Artalyta tidak tahu rumah Antasari)

A: Jadi, gimana ini? Ini, kan, mesti ngamanin bos-bos kita semua.

U: Minggu-minggu begini, kok, aneh-aneh. Kacau ini, kacau.

*
Skenario selamatkan Ayin*

Beberapa menit kemudian, Untung Udji Santoso kembali menelepon Artalyta.

U: Halo, Yin. Jadi, begini, tadi kita sudah koordinasi dengan Wisnu,
you di
rumah saja. Nanti you ditangkap kejaksaan.

A: Hah? (Artalyta terdengar bingung)

U: Kamu nanti ditangkep oleh jekso (jaksa). Mau diskenariokan begitu, lho.

A: (Artalyta masih terdengar bingung) Hah? Kenapa, Mas, kenapa?

U: Mau diskenariokan begitu. Awakmu neng endi iki? (Kamu di mana sekarang)

A: Enggak, udah aman, ini nomor lain. Aku di rumah, di dalam rumah.

U: Jadi, biar aja nanti kamu yang ambil (menangkap) kejaksaan. Si Urip
dicekel (ditangkap), awakmu di kejaksaan (kamu ditangkap kejaksaan).
Lho ini kok sudah penyelesaian begini, kok ada uang begini, maksudnya begini apa?
Gitu lho maksudnya.

A: Kan nanti saya bilang, saya tidak ada keterkaitannya juga dengan
BLBI dan saya gak ada….

U: Jangan ngomong begitu. Biar saya saja yang mancing. Bilang saja ada
hubungan dagang sama dia.

Ini ada tambahan percakapan antara Untung Udji Santoso dengan Arthalyta
Cuplikan rekaman percakapan antara Artalyta Suryani (AS) dan Untung Udji
Santoso (UU) pada tanggal 2 Maret 2008 :

AS : Coba sampeyan telepon dulu ke Antasari

UU : Udah, mati teleponnya

AS : Disuruh nyari dong. Ferry suruh nyari

UU : Ferry juga nggak ngangkat

AS : Jadi gimana? Inikan mesti ngamanin bos kita semua. Aku jawabnya apa?

UU : Usahakan cepet you keluar, nyari Antasari deh

AS : Ya dimana, dia rumahnya dimana?

UU : Ya, anu…di BSD sana waktu itu, nggak tahu juga. Tapi jangan, jangan
ke rumahnya

AS : Kemana?

UU : Ketemu di hotel atau dimana deh

AS : Ya aku udah mau dibawa

UU : Haaa?

AS : Aku mau dibawa, sampeyan lah kejar cari dia mas, kan nggak ketara
kalo sampeyan

UU : Iya, tapi teleponnya.. Aku nggak ngerti rumahnya. Teleponnya nggak
ngangkat. Aku udah minta Wisnu

AS : Sekarang susulin

UU : Tak telepon dulu deh

AS : Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu

UU : Aku sudah telepon Wisnu, demi Allah

AS : Apa kata Wisnu?

UU : Sudah dibuka teleponnya. Kamu punya telepon lain nggak? Nggak
punya…Lah, gimana?

AS : Wah, sekarangkan aku udah mau dibawa (petugas KPK-red). Supaya
keterangannya sama gimana? Kan jangan sampai kena semua.

UU : Kenapa sih, kok Minggu-minggu (hari Minggu), nggawe gawean wae (bikin
kerjaan saja)

AS : Makanya, aku dari luar kota, dia maksa hari ini (tidak jelas
siapa yang dimaksud “dia” oleh Artalyta)


Responses

  1. bagaimana parahnya korupsi di negeri kita ini… udah ada rekamannya juga masih gak ngaku… huh…

    http://diazhandsome.wordpress.com

    btw, makasih ya artikelnya. gue nyari-nyari gak nemu-nemu. thx

  2. emang pemerintah bobrok semua itu baru kejaksaan belum polisi

  3. mbak/mas hehehe… blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
    http://www.kumpulblogger.com sekarang wordpress juga bisa bergabung , dulu hanya blogger


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: