Oleh: YopiE | Juni 13, 2008

Enam Penyebab Pria Berselingkuh

Agus dan Rita adalah tipikal pasangan pacar orang Sunda di mana sang pria memiliki panggilan ‘Aa’ dengan wanitanya ‘Neng’. Satu bulan pertama bagi Agus dan Rita adalah surga. Tiga bulan kemudian adalah panggilan bangun tidur bagi mereka dan mendekati 9 bulan pacaran, drama dimulai.

Pacaran dengan Rita lebih sulit dari merancang dimensi TORA (Take Off Runway Area) sebuah airport. Menentukan TORA, mudah. TORA untuk airport yang dirancang menerima pesawat kelas Boeing 737 lebih panjang dari TORA untuk pesawat kelas Fokker. Ada penuntunnya, ada tabelnya dan ada rumusnya. Bahkan ada asosiasi internasional yang mengatur dan memastikan semua terbangun dan ter-set-up dengan baik. Berpacaran dengan Rita, semua petunjuk datang dari wangsit dukun.

1. Cemburu
Rita menatap Agus dengan tajam. Kedua tangannya melipat defensif, menunjukkan sikap penuh permusuhan. Agus sedang mengonsumsi dosis harian menerima semprotan Rita. Satu isu kecil dapat berubah menjadi letusan gunung.
“Kenapa semalem Neng nelepon gak Aa’ bales?”
“Geulis (cantik)…, soalnya Aa’ semalem baru pulang jam 2.”
“Ngapain aja?” Mata Rita semakin tajam , membuat Agus merasa seperti imigran gelap yang sedang diinterogasi petugas imigrasi.
“Aa’…Aa’ semalem kan siaran.”
“ Kan sampe jam dua belas.”
“Abis itu, mengantarkan pulang Risa…” Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.
“Enak amat yah jadi Risa. Dianter kamu pulang malem-malem. Padahal kan dia bukan pacar kamu…“ Matanya semakin hostile. Agus menggaruk-garuk kepalanya. Dia mulai mengerti maksud omongan Rita. Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dan mampu pulang sendiri ke rumahnya di tengah malam melewati gang-gang penuh preman, maling pemerkosa. Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar gila. Di tahap ini, pembantu Rita yang berprofesi ganda sebagai pengamat sinetron Indonesia secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.
“Daerah rumah dia kan Cikaso. Gak aman.”
“Suruh dia pindah rumah dong. Biar kamu gak perlu anter-anter,“ ujar Rita sambil mengabaikan beberapa faktor kecil seperti:
a. Bahwa mencari rumah baru sulit
b. Harga rumah mahal
„Neng kenapa sih mesti cemburu?“
„Cemburu?Neng gak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah Neng terdengar seperti orang yang cemburu? Menurut kamu ini cemburu? Menurut kamu Neng cemburuan? Nggak!“ dengan desibel yang meningkat dari 8 kali level normal dengan dahi berkerut.

2. Dominasi
Ini adalah agenda keseharian Agus.
Pagi – Antar Rita ke kampusnya.
Siang – Mendatangi Rita di kampusnya, makan siang bersama.
Sore – Menjemput Rita dari kampus.
Malam – Menelpon Rita.
Agus mulai jengah dengan aktivitas yang menuntut mobilisasi tinggi ini. Dia mengusulkan agar Rita juga pro-aktif untuk pergi ke kampus Agus sesekali dan mengurangi frekuensi pertemuan.
„Neng, kalo kayak gini terus, Aa’ bisa cacat permanen dan jatuh miskin.“
„Katanya sayang?“
„Gak mesti tiap hari kan ketemuan?”
“Kan kangen A’.”
“Kalo Neng kangen, ya Neng juga dong sekali-kali pergi ke kampus Aa’.”
„Nggak. Aa’ aja yang ke kampus Neng.“
„Ntar Aa’ kecapekan.“
„Kalo sebaliknya, Neng dong yang kecapekan.“
„AAAARRRGGGHHHHHHH“

3. Sensitifitas
„Neng keliatan gendut gak sih Aa’?“
„Nggak.“
„Liat dong ke Neng kalo bicara.“
„Oke.“
„Gendut ah.“
„Nggak kok sayang.“
„Gendut.“
„Ya mungkin sedikit perlu fitness kali ya?“
„JADI MENURUT AA’, NENG GENDUT? TEGA!“
„Loh?“
„Apa liat-liat?“
„Tadi katanya disuruh liat.“
„Liatin saya gendut?“
„Aa’ minta obat tidur…4 butir…please.“
“Buat?”
“Bunuh diri.”
“Kenapa mau bunuh diri? Malu yah punya pacar gendut?“
„ARRRGGGHHHHH!!!“

4. Drama…drama…drama
„Halo?“
„Halo? Aa’ ya?“
„Iya sayang, Neng, Aa’ gak bisa ke rumah malem ini gak apa-apa ya?“
„Kenapa?“
„Aa’ mau pergi sama temen-temen. Bimo ulang tahun dan mau nraktir makan.“
„Nggak. Aa’ ke sini sekarang juga.“
„Tapi Neng, semua anak-anak pada ikutan.“
“Jadi Aa’ lebih seneng bergaul sama temen-temen Aa’ daripada sama Neng?”
„Bukan gitu, ketemu kamu kan udah tiap hari. Bimo ulang tahun kan cuman sekali setahun.“
„Bilang aja lebih sayang Bimo ketimbang sama Neng.“
„Nggak kok, kamuh gak nangkep nih esensinya.“
„Saya cuman sapi gila yang kamu gandeng kemana-mana.. ya, kan?“
„Sapi sih nggak ya..“
„Hu hu hu.. udah gak ada yang sayang lagi sama Neng di dunia ini..“
„Ehm…cup cup sayang…duh, bageur…..“
„Neng mending mati aja sekalian… giles aja Neng sekalian sama truk ayam, A’.“
„Aduh Neng, ini bukan masalah yang besar kok, cuman semalem aja.“
„Kalo bukan masalah yang besar berarti Aa’ bisa ke sini, kan?“
„…..“

5. Teman
„Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin dan yang paling Neng gak suka, yang paling deket sama kamu itu… tukang maenin cewek!“

6. Makna ganda
Agus mulai menyadari perkataan Doni di UNJAT dulu bahwa terkadang wanita bisa menjadi makhluk yang kompleks. Mereka berjalan-jalan di shopping mall. Minggu depan adalah ulang tahun Rita.
“Ih, bagus yah sepatu ini,” ujar Rita menatap sepasang sepatu.
„Kamu mau Aa’ beliin ini untuk ulang tahun kamu?“
„Nggak lah nggak usah.“
„…..Oke…“ Agus melanjutkan jalan-jalannya, meninggalkan Rita yang masih berdiri di depan etalase sepatu.
„Kok segitu aja?“
„??“
„Paksa dong bujuk Neng supaya mau.“
“Kamu tadi baru bilang bahwa kamu nggak mau.”
„Iya, tapi bukan berarti saya gak mau, kan ?“
“Jadi kalo kamu bilang gak mau, itu artinya kamu mau?”
„Belum tentu juga.“
„Kalo kamu bilang mau, itu artinya kamu gak mau?“
„Belum tentu juga.“
Garuk. Agus garuk-garuk.

Cuplikan dari jomblo: sebuah komedi cinta by Adhitya Mulya


Responses

  1. Lucu abiz


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: